7 Tanda Terkena Depresi yang Menyerang Mental dan Fisik

Pernahkah anda merasa sedih sepanjang waktu tanpa mampu dibendung sehingga kehilangan semangat untuk menjalani hidup? Bisa jadi itu merupakan tanda dari depresi. Kondisi ini termasuk ke dalam gangguan kesehatan mental yang ditandai dengan suasana hati tertekan atau kehilangan minat dalam melakukan aktivitas apapun.

Terdapat banyak sekali penyebab yang mendasarinya, seperti misalnya tekanan biologis, psikologis, sosial, gaya hidup, atau bahkan pola makan tertentu. Semakin sering anda terkena tekanan dari penyebab diatas, maka akan semakin besar pula perubahan fungsi otak termasuk aktivitas sirkuit saraf tertentu yang berubah di otak.

Parahnya, semakin hari tingkat depresi semakin bertambah disebabkan perubahan zaman yang menjadi serba cepat saat ini, terlebih adanya wabah covid-19 yang mengharuskan kita tetap di rumah dan tidak bisa menjalankan aktivitas dan mencari nafkah. Angka depresi di Indonesia saat ini menunjukkan angka 2 juta kasus per tahun.

Dikarenakan bukan sesuatu hal yang sepele, maka anda harus mengatasi depresi anda dari waktu ke waktu. Segera ambil tindakan atau periksakan diri ke dokter jika anda sudah mengalami tanda-tanda dan gejala depresi seperti di bawah ini.

1. Kecemasan

Merasa cemas dan sedih sesekali memang wajar terjadi, terlebih jika terdapat sebab yang mendasarinya. Tetapi bagi mereka yang tengah menderita depresi sebagai bagian dari gangguan mental, maka manifestasi dari kesedihan dan kecemasan tersebut jauh lebih parah dan cenderung menetap.

Sejumlah penelitian besar bahkan telah dilakukan terhadap para penderita gangguan kecemasan sosial. Serangan panik, gangguan kecemasan akan perpisahan, dan fobia spesifik juga memiliki hubungan erat dengan tingkat depresi yang lebih tinggi.

Kecemasan sendiri sebenarnya sudah termasuk ke dalam jenis penyakit berbeda. Dengan kata lain, depresi bisa mendatangkan gangguan mental lainnya yang tak kalah berbahaya, terlebih jika kecemasan tersebut sudah mengganggu aktivitas anda sehari-hari.

Bahkan saking seriusnya, kecemasan sama nyatanya seperti gangguan fisik seperti penyakit jantung dan diabetes. Ketika kambuh, sebuah kondisi yang disebut “serangan kecemasan” pun biasanya memuncak dan berlangsung selama 10 menit. Pada kasus yang lebih parah bisa sampai hingga 30 menit lamanya.

Meskipun waktunya cenderung singkat, tetapi perasaan teror yang begitu parah seringkali  bisa menyebabkan seseorang kehilangan kendali secara total dan bahkan terdapat perasaan seolah-olah akan meninggal saat itu juga.

2. Kehilangan Ingatan

Baik stres, kecemasan, atau depresi semuanya dapat menyebabkan kelupaan, kebingungan, kesulitan berkonsentrasi, dan masalah lain yang mengganggu aktivitas sehari-hari. 

Bahkan menurut sebuah penelitian yang diterbitkan dalam Archives of General Psychiatry yang dikutip oleh Harvard of Health menemukan bahwa orang yang mengalami depresi di usia lanjut memiliki resiko demensia sebanyak 70%, sementara bagi mereka yang mengalaminya semenjak usia paruh baya atau muda memiliki resiko hingga 80% lebih tinggi.

Para peneliti sudah lama mengetahui bahwa depresi dan demensia saling berjalan beriringan. Demensia sendiri merupakan sebuah istilah umum yang meliputi kehilangan ingatan, bahasa, pemecahan masalah, dan kemampuan berpikir lainnya yang cukup parah.

Depresi sendiri sebenarnya sudah termasuk ke dalam ciri khas dari demensia tahap awal. Seiring dengan perubahan suasana hati anda, maka anda pun akan mungkin melihat perubahan kepribadian yang drastis.

3. Perubahan Berat Badan

Beberapa orang mungkin mengalami kenaikan berat badan ketika depresi, tetapi tidak menutup kemungkinan bahwa kehilangan berat badan pun bisa terjadi.

Dalam sebuah ulasan terhadap 15 penelitian yang dipublikasikan oleh Archives of General Psychiatry menunjukkan bahwa adanya keterkaitan antara obesitas dan depresi, begitupun sebaliknya, depresi bisa membuat seseorang terkena kegemukan.

Fenomena ini terjadi akibat perubahan perilaku terhadap kebiasaan makan, pemilihan makanan, dan gaya hidup mager. Dalam jangka panjang, kebiasaan ini akan meningkatkan berat badan anda sehingga resiko terkena obesitas pun tidak bisa anda hindari. Bahkan sekitar 43% orang dewasa yang terkena depresi cenderung mengalami obesitas.

Sementara beberapa diantara sisanya cenderung mengalami penurunan berat badan secara drastis. Hal ini terjadi akibat kehilangan minat akan makanan baik dari segi rasa ataupun nafsu makan.

4. Kerusakan Otak

Depresi dapat menyebabkan kecemasan, sementara kecemasan dan stres kronis bisa menyebabkan degenerasi struktural, gangguan fungsi hipokampus, dan korteks prefrontal.

Selain anda kehilangan memori akibat depresi, hipokampus yang mengecil pun akan mengubah semua jenis perilaku lain yang terkait dengannya. Artinya, penyusutan yang diakibatkan oleh efek depresi tersebut bisa membuat otak anda kehilangan fungsinya.

Amigdala yang membesar dan hiperaktif, bersama dengan aktivitas abnormal di bagian lain otak juga dapat menyebabkan gangguan pola tidur dan aktivitas sehari-hari. Tubuh akan melepaskan sejumlah hormon dan bahan kimia lain secara tidak beraturan yang akan menyebabkan komplikasi lebih lanjut.

5. Kelelahan

Salah satu alasan anda kehilangan minat melakukan aktivitas atau sesuatu yang menyenangkan mungkin disebabkan karena kelelahan. Depresi seringkali datang dengan tingkat energi yang rendah serta rasa lelah yang luar biasa.

Misalnya, satu penelitian terhadap 2.483 orang menemukan bahwa kelelahan sangat terkait erat dengan tingkat stres, yang kemudian bisa menyebabkan insomnia dan penurunan energi dalam jangka panjang.

Insomnia juga bahkan bisa menjadi efek samping dari antidepresan yang mungkin tengah anda konsumsi saat ini. Ahasil, obat-obatan yang anda tujukan untuk mengobati depresi malah bisa memperparah salah satu gejalanya, sehingga tak jarang lingkaran setan pun bisa terjadi di sini.

6. Sakit Secara Fisik

Ada istilah bahwa penyakit fisik yang sedang diderita seringkali muncul akibat pikiran dan hati yang tengah galau.

Sebenarnya, istilah ini tidaklah sepenuhnya mitos, karena menurut seorang psikolog bernama Carla Manley, PhD, mengatakan bahwa penderita penyakit mental (seperti depresi) seringkali mengalami berbagai macam gejala fisik seperti ketegangan otot, nyeri badan, dan sakit kepala.

Sejumlah penelitian juga mendukung teori ini, yang mana menunjukkan bahwa stres dari depresi dapat menyempitkan otot dan saraf, sehingga menyebabkan nyeri secara fisik.

Beberapa gangguan fisik bahkan seringkali menjadi sinyal bagi otak bahwa trauma emosional perlu diatasi untuk mengurangi ketegangan dan masalah lain yang mempengaruhi sistem saraf.

Selain itu, peradangan juga bisa muncul akibat respon terhadap stres itu sendiri. Proses alamiah tersebut memang sangat baik jika terjadi dalam kurun waktu sementara, tetapi jika peradangan kronis berlangsung terus menerus, maka bisa mendatangkan penyakit yang lebih serius.

Misalnya peradangan kronis akan mulai merusak sel, jaringan, dan organ sehat di tubuh anda. Seiring waktu, fenomena ini dapat menyebabkan kerusakan DNA, kematian jaringan, dan jaringan parut internal, yang mana semua itu biang keladi dari penyakit kronis yang akan memberikan rasa sakit secara fisik bagi siapa saja yang mengalaminya.

7. Keinginan Untuk Bunuh Diri

Depresi sudah berkali-kali dihubungkan dengan bunuh diri. Menurut CDC, di Amerika Serikat saja sudah terdapat 42 ribu lebih kasus bunuh diri di tahun 2013. Sementara di Indonesia, 1 dari 5 orang berpikir untuk melakukan hal tersebut. Penyebab paling dominan yang mendasarinya adalah kecemasan dan depresi.

Similar Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *